Rupiah Anjlok ke Rp17.500, Ini Langkah BI Jaga Stabilitas

Gambar: Gemini AI

Arusbalik.web.id – Nilai tukar rupiah menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat pada 12 Mei 2026, menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah. Bank Indonesia langsung mengumumkan tujuh langkah stabilisasi, sementara pemerintah menyatakan siap mengawal kebijakan fiskal untuk meredam tekanan pasar.

Dipicu Konflik Timur Tengah dan Permintaan Dolar Domestik

Bank Indonesia menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama yang mendorong kenaikan harga minyak dunia lebih dari 40 persen sejak Februari 2026. Dari sisi domestik, meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri, pembagian dividen korporasi, dan kebutuhan valuta asing musim haji turut memperberat tekanan terhadap mata uang Garuda.

BI Siapkan "Smart Intervention"

Bank Indonesia berkomitmen hadir di pasar melalui strategi *smart intervention*, mencakup intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar Non-Deliverable Forward (NDF). BI juga menarik modal asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sekaligus membatasi pembelian dolar AS domestik untuk mengurangi tekanan. Cadangan devisa April 2026 tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS, menyusut 2 miliar dolar dibanding bulan sebelumnya akibat langkah stabilisasi dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Ekonom Ingatkan Asumsi APBN Perlu Direvisi

Lembaga riset Permata Bank memproyeksikan Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuan ke level 5 persen pada semester I 2026, naik 25 basis poin dari posisi saat ini di 4,75 persen. Ekonom menilai selisih antara asumsi kurs APBN 2026 sebesar Rp16.500 dengan realisasi pasar yang kini di kisaran Rp17.500 sudah terlampau jauh, sehingga pemerintah dinilai perlu menyampaikan kerangka fiskal yang lebih realistis agar kepercayaan investor tetap terjaga.

Meski rupiah tertekan, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I 2026 masih mencapai 5,61 persen dengan tingkat inflasi April 2026 terkendali di angka 2,42 persen. Bank Indonesia memperkirakan tekanan ini bersifat sementara dan nilai tukar akan kembali ke level fundamental seiring meredanya sentimen musiman.

Sumber: Kompas.com, Suara.com, Merdeka.com

Redaktur: Muhammad Jazuli 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama