MBG Bukan Sekadar Makan Gratis: Ketika Negara Harus Bertanggung Jawab

 

Andri Saputra, Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Al-Qolam Malang
Andri Saputra, Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Al-Qolam Malang

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal diposisikan sebagai salah satu program strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Namun, ketika makanan yang seharusnya menjadi sumber kesehatan justru diduga menyebabkan ratusan anak dan pelajar mengalami gangguan kesehatan, publik berhak bertanya: apakah negara benar-benar siap menjamin keamanan dari setiap makanan yang diberikan kepada rakyatnya?

Kasus dugaan keracunan di Sidoarjo dan Nganjuk pada awal September 2026 bukan sekadar persoalan makanan yang basi, dapur yang lalai, atau petugas yang tidak menjalankan prosedur. Persoalan ini menyentuh sesuatu yang jauh lebih fundamental: tanggung jawab negara terhadap keselamatan rakyat.

Di Sidoarjo, ratusan santri dan pelajar dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, sakit perut, dan dehidrasi setelah mengonsumsi makanan MBG. Di Nganjuk, puluhan siswa SMAN 3 juga dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan yang didistribusikan melalui program tersebut.

Jika persoalannya hanya terjadi satu kali, pemerintah mungkin dapat menyebutnya sebagai insiden. Namun, ketika kejadian serupa berulang di berbagai daerah, kita tidak boleh terus-menerus melihatnya sebagai kesalahan individual semata. Ada persoalan tata kelola yang harus dibongkar.

Pemerintah tidak boleh berhenti pada kalimat “akan dilakukan evaluasi”. Sebab, rakyat sudah terlalu sering mendengar kata evaluasi tanpa mengetahui secara jelas apa yang berubah setelahnya.

Evaluasi yang tidak menghasilkan perbaikan pada akhirnya hanya menjadi dokumen administratif. Evaluasi seharusnya menghasilkan koreksi, perubahan prosedur, penguatan pengawasan, penindakan terhadap pelanggaran, dan mekanisme pencegahan agar kejadian yang sama tidak kembali terjadi.

Lebih jauh, kita perlu mempertanyakan rantai pertanggungjawaban MBG. Siapa yang bertanggung jawab memastikan bahan makanan memenuhi standar? Siapa yang mengawasi proses memasak? Siapa yang memastikan makanan disimpan pada kondisi yang aman? Siapa yang menjamin makanan tidak melewati batas waktu konsumsi? Dan ketika terjadi kegagalan, siapa yang bertanggung jawab kepada korban dan keluarganya?

Pertanyaan tersebut tidak boleh berhenti di tingkat dapur penyedia.

Program berskala nasional dengan menggunakan anggaran negara membutuhkan sistem pengawasan yang juga berskala nasional. Pemerintah pusat tidak dapat melepaskan tanggung jawab hanya karena pelaksanaan teknis berlangsung di daerah.

Ada pula persoalan keuangan publik yang tidak boleh diabaikan. Setiap makanan yang diproduksi menggunakan anggaran negara. Ketika makanan tersebut tidak layak konsumsi dan harus dibuang, negara telah mengeluarkan anggaran, tetapi tujuan program tidak tercapai. Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya keamanan pangan, melainkan juga efektivitas penggunaan uang rakyat.

Karena itu, kami berpandangan bahwa MBG harus ditempatkan sebagai persoalan kebijakan publik, bukan sekadar persoalan dapur.

Mahasiswa tidak sedang menolak hak anak-anak untuk mendapatkan makanan bergizi. Justru kami menuntut agar hak tersebut dipenuhi dengan standar yang benar. Makanan gratis tidak boleh berarti standar keselamatan yang gratis pula.

Pemerintah harus berani membuka data kejadian secara transparan, memperkuat pengawasan independen, memastikan keterlacakan bahan pangan, memperjelas rantai pertanggungjawaban, dan memberikan informasi yang terbuka kepada masyarakat ketika terjadi insiden.

Sebab, rakyat tidak membutuhkan sekadar janji bahwa pemerintah akan mengevaluasi.

Rakyat membutuhkan bukti bahwa pemerintah belajar, memperbaiki, dan bertanggung jawab.

MBG harus menjadi program yang memberi gizi, bukan menimbulkan kecemasan. Anggaran negara harus menghasilkan manfaat, bukan sekadar realisasi belanja. Dan negara harus hadir bukan hanya ketika kamera menyala, tetapi terutama ketika keselamatan rakyat dipertaruhkan.

Jika makanan untuk rakyat saja tidak mampu dijamin keamanannya, maka yang harus dievaluasi bukan hanya dapurnya, tetapi juga sistem yang mengawasinya.


 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama