Arusbalik.web.id – Pengurus dan kader PMII Komisariat Al-Qolam Malang menggelar nonton bareng (nobar) sekaligus diskusi film Pesta Babi di Cafe WD Cafetalisme, Gondanglegi, Kabupaten Malang, Senin malam (18/5/2026) pukul 20.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh pengurus komisariat beserta kader dari rayon-rayon di bawah naungan Komisariat Al-Qolam.
Acara dibuka dengan pemutaran lagu Pesta Para Babi Pembangunan sebagai pengantar suasana sebelum film diputar. Setelah pemutaran film selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dipantik oleh dua kader, Muhammad Jazuli dan Alfarisi.
Angka-Angka yang Mencengangkan
Muhammad Jazuli membuka refleksinya dengan mengaitkan film tersebut dengan pengalaman pribadinya. Ia mengungkapkan bahwa film itu mengingatkannya pada kampung halamannya di Kalimantan, di mana orang tuanya memiliki lahan yang berdekatan dengan milik sebuah perusahaan. Ia mengaku tak pernah membayangkan jika fenomena perampasan lahan yang terjadi di Papua juga bisa menimpa daerahnya.
Jazuli juga mencatat sejumlah angka yang ia sebut tidak masuk akal dari film tersebut, di antaranya:
- Pembukaan lahan seluas 2,5 juta hektar untuk proyek bioenergi dan ketahanan pangan—disebut sebagai yang terbesar di dunia;
- Tanah warga yang ditawar hanya seharga Rp300 ribu per hektar;
- 2.000 ekskavator senilai Rp4 triliun yang didatangkan dari China;
- 10 perusahaan yang dikuasai oleh satu keluarga; seorang pengusaha yang masuk daftar terkaya Indonesia dengan kekayaan lebih dari Rp100 triliun dari hasil eksploitasi alam;
- Gaji buruh asal Papua yang hanya Rp2 juta per bulan dengan potongan Rp1 juta untuk kebutuhan makan;
- Salib merah sebagai simbol perlawanan yang terpasang di 1.800 titik
- 103.000 pengungsi yang terusir tanpa satu pun liputan media.
Diskusi Kritis dari Berbagai Sudut Pandang
Alfarisi membawa perspektif berbeda dengan mendekati film tersebut melalui kerangka Analisis Wacana Kritis. Ia menelaah bagaimana narasi dalam film dikonstruksi dan disajikan kepada penonton.
Syech Assegaf, pemilik Cafe WD Cafetalisme sekaligus dosen di Al-Qolam, turut memberikan catatan. Ia mengingatkan peserta untuk tetap kritis dalam menyikapi film bermuatan provokatif semacam itu, termasuk mempertanyakan validitas data dan fakta yang disajikan di dalamnya.
Kegiatan nobar dan diskusi ini menjadi salah satu bentuk penguatan literasi kritis kader PMII Al-Qolam terhadap isu-isu agraria dan sosial yang tengah berkembang di Indonesia.
