Arusbalik.web.id – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Rabu pagi (20/5/2026), terdepresiasi 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.743 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.706. Pelemahan yang sudah berlangsung konsisten sejak awal Mei ini memantik desakan kalangan ekonom agar Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan diumumkan siang hari ini.
Tekanan Datang dari Dua Arah
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB, rupiah sempat dibuka melemah lebih dalam ke posisi Rp17.760 per dolar AS sebelum sedikit membaik ke Rp17.743. Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat kurs rupiah berada di level Rp17.719 per dolar AS pada hari ini.
Tekanan terhadap rupiah datang dari dua arah sekaligus. Di sisi eksternal, ketidakpastian seputar konflik di kawasan Timur Tengah mendorong harga minyak mentah dunia bertahan tinggi di posisi 111,32 dolar AS per barel, sekaligus memperkuat indeks dolar AS ke level 99,378. Di sisi domestik, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia membuat pelaku pasar memilih bersikap wait and see.
Rupiah bukan satu-satunya yang tertekan. Sejumlah mata uang Asia lain ikut melemah, di antaranya ringgit Malaysia turun 0,09 persen, dolar Taiwan melemah 0,07 persen, dan baht Thailand tergelincir 0,06 persen. Sebaliknya, won Korea Selatan berhasil menguat 0,25 persen.
Ekonom Serukan Kenaikan BI-Rate
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, secara tegas menyarankan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin dari level saat ini 4,75 persen menjadi 5 persen. Menurutnya, prioritas utama bank sentral saat ini harus bergeser penuh ke stabilisasi rupiah.
"Prioritas utama Bank Indonesia saat ini harus berfokus pada stabilisasi rupiah," ujar Riefky.
Riefky juga menyoroti cadangan devisa Indonesia yang terus tergerus akibat intervensi di pasar valuta asing. Dalam empat bulan terakhir, lebih dari 10 miliar dolar AS cadangan devisa disebut telah digunakan untuk menjaga stabilitas rupiah, namun hasilnya dinilai belum efektif karena mata uang domestik masih terus tertekan. Data juga menunjukkan arus keluar dana asing dari pasar saham mencapai 15 juta dolar AS sepanjang pertengahan April hingga awal Mei 2026.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih akan bergerak di kisaran Rp17.650–Rp17.800 hari ini, dengan sentimen positif yang berpotensi muncul jika BI benar-benar menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi pasar.
Dilema Antara Stabilitas dan Pertumbuhan
Keputusan menaikkan suku bunga bukan tanpa konsekuensi. Di sisi lain, inflasi tahunan Indonesia justru menunjukkan tren melandai ke angka 2,42 persen pada April 2026, turun signifikan dari 3,48 persen bulan sebelumnya, dan berada di titik terendah sejak Agustus 2025. Angka ini masih sangat nyaman dalam rentang target sasaran BI di 1,5–3,5 persen.
Kondisi tersebut membuat pasar memperkirakan BI tidak akan bersikap terlalu agresif. Konsensus riset Ciptadana Sekuritas memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin sebagai langkah yang paling tepat dan terukur. Kenaikan suku bunga berpotensi membuat cicilan kredit, termasuk KPR dengan bunga mengambang, ikut naik dalam waktu dekat.
Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menegaskan cadangan devisa Indonesia masih mencukupi untuk melakukan intervensi di pasar valas guna menstabilkan rupiah. Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan fundamental fiskal Indonesia tetap sehat dengan rasio utang di angka 40 persen.
Keputusan RDG Bank Indonesia siang ini menjadi salah satu penanda paling krusial bagi arah perekonomian Indonesia di sisa tahun 2026, di tengah tekanan eksternal yang belum menunjukkan tanda mereda.
