Arusbalik.web.id – Nilai tukar rupiah dilaporkan melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, mencatatkan rekor terburuk sepanjang sejarah moneter Indonesia akibat tekanan kondisi ekonomi serta situasi geopolitik global.
Anjlok ke Rp17.870
Data pasar spot Bloomberg hingga pukul 09.18 WIB menunjukkan mata uang Garuda melemah sebesar 57 poin atau setara 0,32 persen ke level Rp17.870 per dolar AS, setelah dibuka di kisaran Rp17.858 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru menguat 0,14 persen ke posisi 99,34.
Tekanan dari Berbagai Sisi
Pelemahan rupiah tidak hanya dialami Indonesia. Won Korea menjadi mata uang dengan koreksi paling dalam sebesar 0,49 persen, diikuti rupiah 0,42 persen, ringgit Malaysia 0,35 persen, dan baht Thailand 0,25 persen.
Rupiah telah jatuh sekitar 6,4 persen sepanjang tahun berjalan, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia bersama rupee India dan peso Filipina. Ketegangan fiskal dan arus keluar modal yang berkepanjangan terus membebani, meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga lebih besar dari perkiraan pada pertengahan Mei.
Perbankan Sesuaikan Kurs
Dampak dari depresiasi ini langsung direspons perbankan. Bank Mandiri menetapkan harga jual dolar E-Rate di Rp17.770, sementara BCA mematok nilai jual E-Rate di Rp17.850.
Fluktuasi yang menyeret rupiah ke rentang Rp17.750 hingga Rp17.850 per dolar ini memecahkan rekor terendah baru, jauh berbeda dari era awal pemberlakuan mata uang sendiri saat kurs resmi ditetapkan di level Rp3,80 per dolar AS.
