Kesaksian Tahanan Palestina: Dikurung Tentara Israel dalam Peti Mati 15 Hari

Arusbalik.we.id – Kesaksian mengejutkan muncul dari seorang pria Palestina yang mengaku disiksa tentara Israel dengan cara dikurung dalam kotak menyerupai peti mati. Iman Nabhan menyatakan dirinya ditahan di dalam "wadah besi dengan kotak kayu di dalamnya," dengan tangan dan kaki terikat, setelah menolak permintaan pasukan Israel untuk menjadi informan. Pengakuan ini muncul di tengah meningkatnya tuduhan penyiksaan di fasilitas penahanan Israel.

Dikurung 15 Hari, Makan Lewat Lubang

Nabhan mengklaim selama penahanannya, personel Israel memberinya makan melalui lubang dan membiarkannya keluar hanya selama satu menit setiap kali ia perlu menggunakan toilet. Ia mengaku tersiksa dalam kondisi tersebut selama 15 hari penuh.

"Sepertinya mereka ingin membuat saya merasa seperti sudah mati sehingga mereka bisa mendapatkan informasi apa pun yang mereka inginkan," ujar Nabhan. "Saya tinggal di dalam peti mati itu selama 15 hari. Saya merasa seperti hidup di dalam tubuh yang sudah mati." 

PBB Masukkan Israel ke Daftar Hitam

Layanan Penjara Israel secara resmi masuk dalam daftar hitam PBB terkait kekerasan terhadap warga Palestina, dengan sejumlah lembaga Israel lainnya ditempatkan di bawah kerangka pengawasan untuk kemungkinan pencantuman di masa mendatang.

Pencantuman ini terjadi di tengah meningkatnya bukti yang dikumpulkan oleh organisasi hak asasi manusia, media, dan penyelidik PBB. Ratusan kesaksian dari tahanan Palestina merinci penyiksaan dan pelecehan seksual selama penangkapan, interogasi, dan penahanan.

Pola Sistematis, Bukan Kasus Terisolasi

Menurut laporan organisasi HAM Israel, B'Tselem, setidaknya 84 tahanan Palestina termasuk seorang anak di bawah umur telah meninggal di penjara dan pusat penahanan militer Israel sejak 7 Oktober 2023. 

Peneliti Human Rights Watch menyebut penyiksaan ini bukan kasus terpisah, melainkan bagian dari pola yang lebih luas—terutama sejak peristiwa 7 Oktober 2023.

Idul Adha di Balik Jeruji

Sementara itu, 360 anak dan 84 perempuan Palestina terpaksa menyambut Idul Adha di dalam penjara Israel.  Kondisi ini turut mempertebal kecaman internasional terhadap praktik penahanan yang dianggap melanggar hukum humaniter internasional.

PBB dan sejumlah organisasi HAM internasional terus mendesak Israel membuka akses penyelidikan independen atas seluruh kasus kematian dan kekerasan di pusat-pusat penahanannya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama