Washington, Arusbalik.web.id — Amerika Serikat melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Selasa, 9 Juni 2026, menyusul jatuhnya helikopter tempur Apache milik Angkatan Darat AS di perairan dekat Selat Hormuz. Serangan balasan itu dilancarkan atas perintah langsung Presiden Donald Trump yang menyebut insiden itu sebagai tindakan agresi Iran yang tidak dapat dibiarkan. Dua awak helikopter berhasil diselamatkan dalam kondisi stabil.
Apache Ditembak, Dua Pilot Selamat
Helikopter Apache jatuh pada Senin malam, 8 Juni 2026, saat sedang berpatroli di atas Selat Hormuz. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan dua awak berhasil diselamatkan oleh pasukan Amerika dalam waktu sekitar dua jam. Drone permukaan angkatan laut turut membantu proses penyelamatan. Keduanya dinyatakan dalam kondisi stabil tanpa luka serius.
Trump mengonfirmasi insiden itu melalui pernyataan di media sosial. Ia menyebut Iran telah menembak jatuh helikopter Apache yang sangat canggih saat berpatroli di Selat Hormuz dan menegaskan AS harus merespons dengan sangat kuat. Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa helikopter kemungkinan dihantam oleh drone bunuh diri (one-way attack drone) milik Iran.
Serangan Balasan ke Instalasi Radar
CENTCOM mengumumkan serangan balasan pada Selasa pukul 17.00 waktu setempat. Serangan menargetkan instalasi radar Iran di kawasan Selat Hormuz, khususnya Pulau Qeshm dan wilayah Sirik di Provinsi Hormozgan. Komando AS menyebut serangan itu sebagai respons proporsional atas agresi Iran yang tidak beralasan. Media Iran mengonfirmasi terdengar ledakan hebat di pantai selatan Iran tak lama setelah pengumuman AS.
Apache ini menjadi pesawat berawak kedua yang dikonfirmasi Washington ditembak jatuh oleh Iran dalam konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung, setelah sebuah jet tempur F-15 hilang pada April 2026.
Iran Bantah dan Ancam Balas
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi tidak secara langsung membantah atau membenarkan keterlibatan Iran. Namun ia memperingatkan bahwa keberadaan pasukan asing di Selat Hormuz sangat berisiko dan mendesak penarikan seluruh pasukan asing dari kawasan tersebut. Sumber militer internal Iran mengklaim tidak ada operasi udara ofensif yang dilakukan dalam 24 jam sebelum insiden, seraya mengancam balasan lebih mematikan jika AS melanjutkan tindakannya.
Analis: Iran Kirim Sinyal Tegas
Analis kebijakan keamanan Wolfgang Pusztai menilai penembakan Apache sebagai sinyal keras Teheran bahwa mereka tidak bersedia membiarkan AS menggunakan helikopter untuk mengawal kapal tanker yang menerobos blokade angkatan laut Iran di malam hari. Ia menilai mustahil bagi AS untuk mengendalikan Selat Hormuz hanya dengan menghancurkan baterai rudal di wilayah tersebut.
Insiden ini terjadi di tengah upaya negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran. Trump sebelumnya mengklaim perjanjian AS-Iran berada di tahap akhir, namun eskalasi terbaru ini memunculkan kekhawatiran atas keberlanjutan perundingan tersebut.
