Pertamax Naik 32 Persen, Rupiah Sentuh Rp 18.187 — Rakyat Menanggung Beban

Jakarta, Arusbalik.web.id — Dua tekanan ekonomi menghantam masyarakat Indonesia secara bersamaan pada pekan kedua Juni 2026. Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter mulai 10 Juni 2026 — kenaikan sebesar 32 persen. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh Rp 18.187 pada 8 Juni 2026, level terendah sepanjang sejarah Indonesia. Kombinasi keduanya langsung menekan daya beli jutaan warga.

Rincian Kenaikan BBM

Selain Pertamax, Pertamina juga menaikkan harga Pertamax Green 95 dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. Sementara BBM bersubsidi tidak berubah — Pertalite tetap Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyebut penyesuaian dilakukan setelah melalui koordinasi dengan pemerintah dan mengikuti formula harga yang berlaku. "Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (9/6/2026).

Rupiah di Titik Terendah Sejarah

Data Jisdor Bank Indonesia menunjukkan rupiah berada di Rp 18.171 per dolar AS pada 8 Juni 2026. Pada awal Januari 2026, rupiah masih di kisaran Rp 16.200 per dolar — artinya dalam lima bulan, rupiah kehilangan nilai hingga 12,3 persen.

Bank Indonesia merespons dengan menaikkan BI-Rate menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026 sebagai langkah stabilisasi nilai tukar. Tekanan eksternal berasal dari konflik Timur Tengah dan kenaikan suku bunga The Fed yang memicu pelarian modal dari negara berkembang.

Dampak Langsung ke Masyarakat

Kenaikan harga BBM nonsubsidi berdampak berantai. Tarif angkutan umum di Jabodetabek naik rata-rata 15 persen dalam dua pekan terakhir. Data Bank Indonesia untuk April 2026 menunjukkan indeks penjualan riil turun 3,2 persen dibanding bulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik mencatat angka kemiskinan Maret 2026 naik menjadi 9,5 persen — sekitar 530.000 orang jatuh miskin dalam enam bulan terakhir.

APBN Ikut Tertekan

Ekonom Bhima Yudhistira memperingatkan bahwa pelemahan rupiah berdampak langsung ke APBN. Hasil simulasi sensitivitas asumsi makro APBN 2026 menunjukkan kegagalan mengendalikan kurs menyebabkan belanja negara bertambah Rp 91,5 triliun, salah satunya dari beban kompensasi ke Pertamina yang semakin berat.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama