Arusbalik.web.id - Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup di level yang mendekati titik psikologis baru, sementara sejumlah perusahaan mulai angkat bicara soal dampaknya terhadap bisnis.
Rupiah Tembus Rp 18.049
Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis sore ditutup melemah 0,46 persen menjadi Rp 18.049 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.966 per dolar AS. Pelemahan ini merupakan yang ke sekian kalinya secara beruntun dalam sepekan terakhir.
Ketegangan Timur Tengah Jadi Pemicu
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan investor terus memantau perkembangan situasi Timur Tengah. Israel mempertahankan operasi militer di Lebanon Selatan, sedangkan Iran melancarkan serangan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain.
Dari dalam negeri, sentimen rupiah memburuk setelah inflasi Mei 2026 naik secara bulanan menjadi 0,28%, serta kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.
Surplus Perdagangan Menyempit
Data yang disoroti pasar adalah neraca perdagangan barang Indonesia yang mencatat surplus pada April 2026 sebesar US$89,1 juta. Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Namun secara statistik, surplus perdagangan April menyempit tajam, menggarisbawahi tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat pasokan global yang tersendat di Selat Hormuz.
Pelemahan Merata di Asia
Pelemahan rupiah sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang Asia lainnya. Yen Jepang melemah 0,11%, dolar Singapura melemah 0,03%, won Korea melemah 0,35%, dan peso Filipina terdepresiasi 0,22%.
Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan langkah intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
