Arusbalim.web.id – Pasar saham Indonesia diprediksi menghadapi volatilitas tinggi pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Dua faktor utama menjadi pemicu: rebalancing portofolio oleh fund manager pasif mengikuti pengumuman evaluasi MSCI pada 12 Mei 2026, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dampak Rebalancing MSCI
Praktisi pasar modal Hans Kwee memproyeksikan IHSG menghadapi volatilitas tinggi yang berkaitan dengan penyesuaian portofolio investor institusi. Fund manager pasif diperkirakan melakukan rebalancing portofolio mengikuti pengumuman evaluasi MSCI tersebut.
Serangan AS di Iran Picu Sentimen Negatif
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terbaru di wilayah Iran selatan dengan menargetkan lokasi rudal serta kapal-kapal yang diduga tengah memasang ranjau. Pasar masih mencermati peluang terciptanya perdamaian di kawasan Timur Tengah yang dinilai dapat meredakan tekanan terhadap aset berisiko global.
Rupiah Tertekan Menuju Rp18.000
Tekanan tidak hanya dirasakan di pasar saham. Nilai tukar rupiah diproyeksi mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS hari ini. Mata uang Garuda sudah menyentuh Rp17.902 pada awal perdagangan kemarin. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian menilai level rupiah saat ini terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya, dan memperkirakan potensi penguatan kembali rupiah bisa mencapai level Rp16.800–17.000 jika koordinasi kebijakan fiskal dan moneter solid.
Penutup: Bank Indonesia sebelumnya telah menyiapkan lima strategi untuk menghadapi tantangan ekonomi global maupun domestik, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,9–5,7 persen pada 2026.
