Arusbalik.web.id – Kegagalan tim bulu tangkis putra Indonesia di Piala Thomas 2026 terus memicu gelombang reaksi. Untuk pertama kalinya sejak debut pada 1958, Indonesia tersingkir di fase grup — kalah 1-4 dari Prancis di Forum Horsens, Denmark, pada 29 April 2026. Desakan reformasi total terhadap Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) pun semakin keras bergema hingga penghujung Mei ini.
Sejarah Paling Kelam dalam 68 Tahun
Indonesia memulai turnamen dengan cukup meyakinkan, menang atas Aljazair 5-0 dan Thailand 3-2. Namun harapan pupus saat bertemu Prancis. Jonatan Christie takluk dari Christo Popov, Alwi Farhan dikalahkan Alex Lanier, dan Anthony Sinisuka Ginting yang sempat memimpin di gim pertama akhirnya menyerah kepada Toma Junior Popov lewat pertarungan tiga gim. Nasib Indonesia ditutup dengan kekalahan ganda Sabar/Reza dari pasangan Prancis Eloi Adam/Leo Rossi.
Indonesia finis di posisi ketiga Grup D, di bawah Thailand dan Prancis, meskipun sama-sama mengoleksi dua kemenangan. Hasil selisih pertandingan menjadi pembeda yang pahit. Sebelum ini, pencapaian terburuk Indonesia di Thomas Cup hanya sampai perempat final pada 2012.
PBSI Minta Maaf dan Akui Kelemahan
Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Eng Hian, secara terbuka menyampaikan permintaan maaf atas kegagalan ini. "Atas nama PBSI, saya memohon maaf karena belum bisa memberikan hasil yang terbaik untuk Thomas Cup kali ini. Harus kami akui Prancis tampil lebih baik dari kami," ujarnya.
PBSI menilai regenerasi menjadi masalah utama. Ketua Umum PBSI M. Fadil Imran menyebut penguatan prestasi nasional tidak bisa hanya bertumpu pada pelatnas, melainkan harus dimulai dari hulu pembinaan di daerah.
Reformasi Dimulai dari Daerah
Sebagai respons konkret, pada 12 Mei 2026 PBSI melantik 13 Pengurus Provinsi (Pengprov) baru di Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur. Ke-13 daerah tersebut mencakup Sumatra Utara, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Bengkulu, Papua Pegunungan, dan Papua.
"Evaluasi yang kami lakukan harus menjadi momentum perbaikan menyeluruh. PBSI harus memperkuat fondasi pembinaan dari hulu, karena masa depan bulu tangkis Indonesia dimulai dari daerah," kata Fadil Imran.
Indonesia saat ini masih tercatat sebagai kolektor gelar Thomas Cup terbanyak di dunia dengan 14 trofi, melampaui China yang mengoleksi 11 gelar. Justru di sinilah ironi terbesar kegagalan ini terasa.
