Saham BBRI Turun ke Rp2.950, Terendah dalam 5 Tahun di Tengah Aksi Jual Asing

 

Arusbalik.web.id – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Saham emiten perbankan terbesar Indonesia itu ditutup melemah 3,91 persen ke posisi Rp2.950 per lembar, sekaligus menjadi level terendah dalam lima tahun terakhir.

Koreksi 32 Persen dari Puncak Tertinggi

Penurunan saham BBRI ke level Rp2.950 mencerminkan koreksi sekitar 32 persen dari harga puncak yang pernah dicapai di angka Rp4.450 per lembar saham. Sepanjang tahun berjalan (year to date), saham ini sudah terkoreksi 16,12 persen, sementara dalam setahun terakhir susut hampir 28,94 persen.

Tekanan datang di tengah aksi jual besar-besaran oleh investor asing. Meski demikian, investor domestik justru tercatat melakukan pembelian besar-besaran di level harga ini, memanfaatkan posisi yang dinilai sudah sangat tertekan.

Fundamental Solid di Tengah Tekanan Pasar

Penurunan harga saham ini dinilai tidak mencerminkan kinerja fundamental BRI yang masih positif. Pada kuartal I-2026, BRI membukukan laba bersih konsolidasian Rp15,5 triliun, tumbuh 13,7 persen secara tahunan. Total penyaluran kredit mencapai Rp1.562 triliun, tumbuh 13,68 persen. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat 22,9 persen dan rasio LDR di level 87 persen.

Konsensus 21 analis profesional menetapkan target harga median BBRI di Rp4.250, atau potensi kenaikan sekitar 40 persen dari level saat ini. Tidak satu pun dari 21 analis tersebut yang mematok target di bawah harga sekarang.

Ketahanan Relatif Saat IHSG Guncang

Catatan menarik muncul saat IHSG anjlok 3,46 persen pada 20 Mei 2026. Saat itu saham BBRI hanya turun 0,65 persen, jauh lebih kecil dibanding indeks keseluruhan. Ini menunjukkan pasar masih memandang BBRI sebagai salah satu saham perbankan paling defensif di Bursa Efek Indonesia.

Meski demikian, para analis mengingatkan investor untuk tetap memantau pergerakan nilai tukar rupiah dan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia sebagai faktor yang dapat mempengaruhi laju pemulihan saham ini.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama