Arusbalik.web.id – Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi Beijing dan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping, Rabu (20/5/2026). Pertemuan di Balai Besar Rakyat itu menghasilkan penandatanganan lebih dari 40 dokumen kerja sama yang mencakup bidang ekonomi, energi, transportasi, dan hubungan internasional, sekaligus mengukuhkan kedua negara sebagai poros kekuatan global yang semakin solid di tengah ketegangan geopolitik dunia.
Lebih dari 40 Dokumen Ditandatangani
Rusia dan China menandatangani lebih dari 40 dokumen yang mencakup bidang ekonomi, energi, transportasi, dan kerja sama internasional. Kremlin menjelaskan bahwa 22 dokumen ditandatangani dalam upacara khusus setelah pembicaraan antara Putin dan Xi berakhir, sementara 20 perjanjian dan memorandum lainnya disepakati di sela-sela pertemuan. Dari seluruh dokumen tersebut, dua perjanjian ditandatangani langsung oleh Putin dan Xi.
Deklarasi Tatanan Dunia Multipolar
Putin dan Xi menandatangani deklarasi tentang pembentukan tatanan dunia multipolar dan model baru hubungan internasional, setelah pembicaraan bilateral di Beijing. Kedua pemimpin juga mengadopsi pernyataan bersama mengenai penguatan kemitraan komprehensif antara Rusia dan China.
Rubel dan Yuan Gantikan Dolar
Putin menyatakan Moskow dan Beijing telah membangun sistem perdagangan bilateral yang stabil dan terlindungi dari tekanan eksternal serta gejolak pasar global. Penggunaan rubel dan yuan dalam perdagangan membantu melindungi kerja sama ekonomi dari pengaruh eksternal dan memastikan keberlanjutan hubungan komersial antara kedua negara.
Energi dan Nuklir
Putin menyatakan Rusia siap melanjutkan pasokan minyak dan gas tanpa gangguan ke China. Perusahaan nuklir Rusia, Rosatom, juga tengah menyelesaikan pembangunan unit tenaga baru di pembangkit listrik tenaga nuklir di China sebagai bagian dari kerja sama energi yang lebih luas antara kedua negara.
Kunjungan Putin ke Beijing berlangsung beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump juga menemui Xi Jinping, menjadikan China sebagai titik temu diplomasi global yang diperebutkan dua kekuatan besar. Kedua negara menyatakan kemitraan mereka sebagai faktor penstabil dalam tatanan internasional.
